Iklan Sekolah Gratis = "Menyesatkan Masyarakat?"

Posted On 7/15/2009 04:26:00 PM by achankoe | 0 comments

Sejak dicanangkannya iklan sekolah gratis oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di awal tahun 2009, iklan yang berkaitan dengan Sekolah Gratis banyak bermunculan baik di media cetak, media televisi, internet, dan sebagainya.

Akan tetapi, dari beberapa iklan yang ditampilkan khususnya melalui media televisi -hal ini karena media televisi lebih banyak mampu menjangkau masyarakat luas bila dibandingkan dengan media cetak bahkan media internet, maklum masih banyak masyarakat yang belum melek internet- tampak masih sangat bias, hal itu karena dalam iklan-iklan yang disampaikan,misalnya yang menampilkan para tokoh Laskar Pelangi dan iklan seorang anak yang merasa gembira begitu mendengar pengumuman sekolah gratis di radio setelah terancam putus sekolah karena orang tuanya tidak memiliki biaya sekolah hanya menampilkan bahwa mulai tahun 2009 sekolah gratis tetapi tidak ada rincian biaya apa saja yang digratiskan, apakah seluruh biayanya atau hanya pada biaya-biaya tertentu misalnya SPP, tidak ada lagi sumbangan-sumbangan, uang pembangunan, pemberian buku-buku, dan sebagainya.

Akibat penanyangan iklan-iklan yang bias tersebut menyebabkan timbulnya beragam persepsi di masyarakat, halini karena banyak masyarakat yang menelan mentah-mentah iklan tersebut sehingga muncullah persepsi bahwa yang dimaksud sekolah gratis meliputi gratis semua pembiayaan yang berkaitan dengan kegiatan aktivitas sekolah baik dari pendaftaran, uang SPP, uang gedung, buku-buku, dan sebagainya. Semestinyalah pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memberikan informasi yang jelas di berbagai media tersebut.

Hal ini, sebenarnya telah dijelaskan oleh pemerintah melalui situs Sekolah Gratis , tetapi karena hampir sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum melek internet maka informasi yang disampaikan tersebut hanya mampu diterima oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia.

Alangkah lebih baik bila informasi tersebut lebih banyak disampaikan melalui media audio visual seperti televisi dan radio yang lebih mampu mencapai sebagian besar masyarakat Indonesia.

Berdasarkan informasi dari situs Sekolah Gratis ternyata gratis yang dimaksud adalah sebatas bebas SPP yang disebabkan adanya kenaikan dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) yang di dalamnya termasuk sumbangan pembiayaan pendidikan (SPP), uang penerimaan siswa baru (PSB), biaya ujian sekolah dan juga BOS buku.

Adapun perincian dana BOS yang akan diterima oleh tiap siswa adalah sebesar Rp. 400.000/ tahun untuk SD / SDLB di wilayah kota, Rp. 397.000/ tahun untuk SD/ SDLB di kabupaten. Sedangkan untuk siswa SMP/ SMPLB/ SMPT di kota Rp. 575.000/ tahun dan SMP/ SMPLB/ SMPT di kabupaten Rp. 570.000/ tahun.

''Dalam hitung-hitungan Balitbang Depdiknas, untuk sekolah gratis berkualitas dibutuhkan Rp1,8 juta per siswa per tahun, namun yang terjadi saat ini, BOS hanya diberikan sekitar Rp400 ribu per siswa per tahun, sehingga rata-rata orang tua siswa harus menanggung sisanya Rp1,4 juta per tahun. Untuk itu, Depdiknas harus mulai memikirkan agar iklan sekolah gratis tidak hanya omong kosong belaka,'' kata Koordinator Pelayanan Publik Indonesian Corruption Watch (ICW) Ade Irawan.

''Iklan sekolah gratis itu hanya tong kosong, dan sangat kental dengan muatan politis, terutama untuk kepentingan pemerintah saat ini, karena pungutan di sejumlah sekolah masih saja ada pungutan,'' ujar Ade Irawan dalam sebuah diskusi publik pendidikan, di Komunitas Utan Kayu, Jakarta, Kamis (7/5).

Berbeda dengan iklan Sekolah Gratis yang diiklankan oleh Pemerintah, kondisi dilapangan masih jauh panggang dari api, di daerah masih banyak terdapat pungutan-pungutan seperti di Bandung , Palembang malah ada indikasi upaya melegalkan pungutan dengan latar belakang pelaksanaan sekolah gratis , adalagi dengan berdalih untuk subisidi silang sebagaimana terjadi di Semarang.

Ada sebagian pihak menganggap bahwa iklan Sekolah Gratis tersebut adalah cara pemerintah untuk menarik simpati masyarakat, hal ini karena munculnya iklan-iklan tersebut dengan marak bertepatan dengan pelaksanaan pemilihan presiden.

Menurut Koordinator Education Forum, Suparman, saat ini banyak politisi yang menjadikan pendidikan sebagai komoditas politik, seperti janji-janji memberikan pendidikan murah, bahkan gratis. Setelah politisi itu mendapat kedudukan politik, persoalan pendidikan diabaikan dan janji mereka soal pendidikan sulit ditagih.

”Jangankan menagih janji. Bertemu dengan wakil rakyat untuk mengadu persoalan pendidikan saja sangat sulit, padahal pendidikan gratis selalu menjadi isu utama,” keluhnya.

Apa respon pihak pemerintah atas pengaruh iklan tersebut yang menimbulkan banyak persepsi di masyarakat?.

Dalam situs Depkominfo Mendiknas Bambang Sudibyo menegaskan, istilah "Sekolah Gratis" merupakan usulan Dewan Perwakilan Rakyat dan Menteri Pendidikan Nasional mengingat istilah "gratis" mudah disosialisasikan, sedangkan istilah "Bisa" merupakan semboyan pemerintah saat ini yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla.

"Meski dalam UU Sisdiknas dikatakan tanpa memungut biaya, namun ketika rapat dengan DPR disepakati menggunakan istilah gratis, karena istilah itu mudah disosialisasikan kepada masyarakat,"kata Bambang Sudibyo saat raker dengan PAH III DPD RI di Gedung DPD Jakarta, Rabu (24/6).

Namun sekolah gratis juga bukan berarti gratis yang tidak terbatas, katanya, sebab selain biaya operasional sekolah, siswa memerlukan biaya lain, yaitu transportasi, pakaian dan lainnya, apalagi siswa di perkotaan, demikian lanjut Mendiknas.

Penjelasan Mendiknas tentang sekolah gratis juga terkait dengan pertanyaan dan keinginan beberapa anggota DPD yang meminta iklan "Sekolah Gratis, Pasti Bisa" dicabut dan tidak lagi ditanyangkan di televisi mengingat iklan tersebut berbau politis dan mendukung salah satu capres, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono.

"Iklan Mendiknas tentang sekolah gratis di televisi setiap hari melebihi rating iklan capres, padahal kami sudah sepakat tidak menggunakan kata sekolah gratis. Iklan tersebut bernuansa politis karena menggunakan kata "Bisa","kata Ketua PAH III DPD asal Sulteng, Faisal Mahmud.

Jadi? iklan telah ditayangkan dengan luas, banyaknya kesalahan pemahaman di masyarakat telah terjadi, akhirnya pemerintah memberikan klarifikasi, mengapa tidak dari awal? sehingga kesalahan pemahaman tidak terjadi, yang terpenting adalah pemilihan presiden telah berlangsung, hanya Tuhan yang tahu ada apa dibalik ini semua, tetapi yang jelas ......... selalu rakyat yang jadi korban? ....

Sekolah Gratis? ... rasanya cuma mimpi ...









Baca Lagi? Mau Mau Mau? ......
| | edit post

Ikhwan ... Oh ... Ikhwan!

Posted On 7/09/2009 11:32:00 AM by achankoe | 0 comments

Air mata membasahi wajah murung nan sedih, sesekali terdengar helaan nafas panjang dari hidungnya yang bangir.

Ini adalah yang ketiga kalinya aku menyaksikan pandangan yang sama. Kasihan sahabatku ... dia menangis tersedu-sedu, sudah tiga kali ia dipertemukan dengan Ikhwan untuk ber-ta’aruf, namun tiga kali pula ia kecewa dan terluka.

Semua Ikhwan yang ditemuinya menolaknya tanpa alasan yang syar’i. Bukan karena penolakan tersebut yang membuat ia menangis dan kecewa, tetapi alasan-alasan penolakan terhadap dirinya yang membuat ia terluka.Ikhwan pertama, menolaknya karena usianya lebih tua daripada Ikhwan tersebut.

Ikhwan kedua, menolaknya karena penampilannya kurang menarik dan Ikhwan ketiga, menolaknya karena wajahnya kurang jelita ..... astaghfirullaah ... Ikhwan-ikhwan picik! ... kemana akal sehat yang Allah SWT berikan padamu ?!!!... Tanpa terasa air mataku pun mengkristal dipelupuk mata, hadir sebentuk kebencian dalam hati entah ... untuk siapa?

Sebuah tangan menyentuh lenganku “Fida, afwan jika keadaanku membuatmu ikut bersedih”, suara lembut segera terdengar di telingaku. “Tidak Amah, aku tidak habis pikir ternyata ada juga Ikhwan yang picik! apakah mereka merasa diri mereka lebih baik dari yang lain? dimana pikiran waras mereka? apakah mereka hanya memilih yang muda, cantik, dan indah dengan dalih mengikuti sunnah nabi? mereka lupa Amah, istri-istri Rasulullah SAW bukan hanya A’isyah, Hafsah tapi ada Saudah yang telah tua dan kurang menarik! apakah mereka lupa?!!!”, tandasku berapi-api.

“Fida, jangan su’udzan gitu donk! tidak baik berbuat demikian”, dengan sabar Amah menenangkan aku. Betapa ruginya Ikhwan-ikhwan picik itu, mereka belum melihat ada yang lebih indah dan cantik yang ada pada sahabatku ini. Dia begitu penyabar dan penyayang.

“Entahlah Mah, aku rasanya tidak simpati lagi dengan Ikhwan, pengalaman yang berkali-kali kamu alami cukup sudah menjadi i’tibar bagiku. Mungkin aku lebih memilih sendiri daripada harus menanggung rasa hina dihadapan para Ikhwan”, ungkapku.

Amah memandangiku dengan tatapan tak percaya dan mulai menasehatiku dengan tenang “Fida yang manis, jangan berkata sepeti itu, bukalah dan jernihkan hatimu, jangan menyimpan dendam di dadamu dimana ia akan menjadikan hatimu keras dipenuhi dengan kebencian-kebencian. Berdoalah agar kejadian serupa ini tidak menimpamu”.

“Kita lihat saja nanti ..... “, tegasku dengan optimis.

Baru saja kulangkahkan kaki di halaman rumah, Ummi sudah menyambutku dengan senyuman yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dari wajahnya tergambar dengan jelas bahwa Ummi sedang bahagia.

“Assalaamu’alaikum ...”, sapaku ketika tiba di teras rumah dihadapan Ummi sembari mencium tangan dan kedua pipinya.

“Wa’alaikum salaam ... anak Ummi”, Ummi menjawab salamku sembari memadangi wajahku lekat-lekat. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Aduh, anak Ummi sudah besar ya... cantik lagi”, puji Ummi sambil membelai wajahku dan kemudian membimbingku masuk ke rumah. Dan sesampainya di ruang tamu, aku lihat seorang Ikhwan kemudian baru kutahu dia adalah anak ibu Shifa, teman Ummi di majelis ta’lim.

“Dari mana nak Fida?”, tanya bu Shifa ramah.
“Dari kampus bu”, jawabku singkat.
“Ayo duduk dulu, kita ngobrol-ngobrol dulu ya nak fida’, pinta bu Shifa.
“Boleh”, kemudian aku duduk disebelah Ummi dan pandanganku menjurus pada ibu Shifa saja karena tak jauh darinya ada Ikhwan yang tidak lain adalah anaknya.

“Nak Fida kapan wisudanya?”, tanya bu Shifa menyelidik, dengan malas kujawab “Insya Allah, bulan depan Bu”, dan mulailah mengalir pertanyaan-pertanyaan dari ibu Shifa dari hal-hal yang besar sampai kemasalah kecil seperti “Nak Fida suka rasa pedas nggak?”.

Subhanallah ..... aku sudah mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan yang kurasa tidak ada manfaatnya buat bu Shifa. Namun, akhirnya bu Shifa serta anaknya pamit pulang setelah satu jam lebih mewawancaraiku seperti layaknya wartawan senior.

Setelah shalat isya’, aku berniat melepaskan lelah di atas peraduanku, tapi baru semenit kubaringkan tubuhku tiba-tiba pintu kamarku diketuk Ummi. Dengan lesu kubuka pintu dan melihat Ummi masih saja menyimpan senyum seperti tadi sore.

“Fida, Ummi ingin bicara denganmu”, pinta Ummi dengan wajah serius.
“Boleh Mi, tapi Fida sambil tiduran ya, soalnya badan Fida rasanya mau copot deh Mi ...”, pintaku pada Ummi.

“Iya, sini dipangkuan Ummi biar Ummi pijitin kepala kamu”, perintah Ummi.
Sunyi sesaat ..................

“Fida, usiamu semakin bertambah bilangannya, kuliahmu pun sudah rampung, bagaimana kalau kamu segera menikah? Ummi kesepian Fida, setelah ditinggal Abimu, dirumah hanya kita berdua. Ummi ingin setelah menikah kamu tetap tinggal bersama Ummi dan juga suamimu dan bila kelak kamu melahirkan, Ummi ngga’ kesepian lagi ...”, jelas Ummi panjang lebar.

Tak sadar aku segera bangun dari pangkuan Ummi demi mendengar kata-kata Ummi barusan, seolah-olah aku tak percaya dengan pendengaranku, aku hanya bisa membisu untuk beberapa saat namun akhirnya keluar juga suara dari mulutku.

“Fida belum memikirkannya Mi .....”, kataku sambil tertunduk kebingungan.
“Lagi pula Fida ingin bekerja, sudah cukup Ummi bekerja berat untuk Fida dan sekarang giliran Fida membahagiakan Ummi”, lanjutku lagi.

Ummi terus membujukku agar mau menikah dan rupa-rupanya tamu yang datang sore tadi bukan sekedar bersilaturrahmi, tetapi dalam rangka ta’aruf di luar sepengetahuanku karena Ummi tidak langsung memberitahuku.

Disaat hatiku tercabik-cabik dengan kebencian pada Ikhwan, dengan semangatnya Ummi terus berpromosi tentang Ikhwan yang ingin dijodohkan denganku.
“Fida, kamu bakalan menyesal kalau sampai menolaknya. Dia masih muda, tampan, sarjana, ada pekerjaan tetap, dari keluarga terhormat ..... “ tegas Ummi demi meyakinkanku.

Sementara Ummi sibuk berceloteh, aku berfikir bagaimana menolak keinginan Ummi tanpa menyakiti hatinya. Aku terus berfikir sampai-sampai tak mendengar dengan jelas pembicaraan Ummi.

Kupandangi embun yang jatuh ke bumi dari daun-daun hijau pepohonan. Begitu segar pagi ini. Kemudian teringat dalam benakku tentang kejadian kemarin sore dan semalam. Aku bingung, entah bagaimana harus bersikap, tetapi yang jelas aku tidak tertarik untuk menikah. Rasanya apa tidak salah kengototanku untuk tidak menikah? Bagaimanapun aku tidak bisa mendustai kata hatiku, namun bila teringat kejadian-kejadian yang menimpa sahabat-sahabatku membuatku jadi mengurungkan niat untuk melaksanakan sunnah nabi yang satu ini.

Kembali tergambar didepan mataku wajah Amah, Nisa, Asha, Qanitah, dan Hanifah. Mereka adalah aktivis-aktivis da’wah yang memiliki akhlaq yang baik, kualitas sebagai muslimah sejati tidak diragukan lagi, tetapi sangat disesalkan hanya karena kekurangan-kekurangan yang tidak syar’i membuat Ikhwan-ikhwan enggan menyuntingnya.

Lamat-lamat terdengar suara Ummi memanggilku, segera kugegaskan kakiku ke luar kamar dan menuju ruang makan dimana Ummi sedang menunggu di meja makan.
“Tidur lagi ya Fid ... ?” tanya Ummi begitu melihatku.
“Ngga’ kok Mi ..., afwan ya Mi, Fida ngga’ bantuin Ummi di dapur”, kataku merasa sedikit bersalah.
“Sudah tidak apa-apa, yuk kita santap sarapan pagi ini!”, ajak Ummi setelah membereskan meja makan, Ummi mengajakku duduk-duduk santai di taman. Aku tahu, beliau pasti ingin mengetahui keputusanku tentang masalah semalam.

Benar saja, begitu duduk di kursi taman Ummi langsung menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaannya.

“Bagaimana sayang, sudah kamu pikirkan? atau masih bingung? apa yang dibingungkan? sudah shalat Istikharah? kamu suka ngga’ sih dengan anak bu Shifa itu? bagaimana menurut kamu tentang dia? lho kok diam aja?”, tanya Ummi sambil menyelidik.

“Subhanallah Mi, panjang sekali pertanyaan Ummi sampai-sampai Fida ngga’ ingat lagi. Lagian gimana mau menjawab lha ya Ummi nanya terus sih!”, kataku sambil geleng-geleng kepala.

“He ... he ... he ... afwan deh Fid ...’, kilah Ummi.
“Ummi kok lucu! sepertinya maksain Fida dengan anak bu Shifa itu, sedangkan Ummi belum tau apakah dia suka dengan Fida atau ngga’”, tegasku.

Seolah Ummi tersadar dari kealpaannya, kemudian Ummi tertawa sambil menepuk dahinya “oh ... iya! Ummi kok bodoh ya Fid?”, aku Ummi.

Baru selesai kalimat Ummi barusan terdengar deringan telepon dari ruang tamu .....
“Terima dulu Fid teleponnya ya ...’, perintah Ummi padaku.
“Hallo, Assalaamu’laikum ....”, sapa Fida ramah.
“Wa’alaiku salaam ...’, jawab sebuah suara diseberang.
“Ini Fida ya? saya, Ibu Shifa ...”, ternyata dari bu Shifa
“Iya, saya Fida, mau bicara dengan Ummi? sebentar bu, saya panggilkan ....”, tawarkku pada bu Shifa.
“Boleh, Jazaakillaah ya nak Fida ... “, jawab bu Shifa.

Tak lama kemudian, terdengar gelak tawa Ummi yang sedang berbicara dengan bu Shifa. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, aku tidak tertarik mendengarnya. Aku memilih kembali ke taman sembari memandangi bunga-bungaan yang sengaja Ummi tanam. Ah ..... Ummi memang rajin.

“Ternyata benar perkiraan Ummi, bahwa dia pasti menyukaimu!”, tiba-tiba Ummi sudah duduk disampingku.
“Siapa yang Ummi maksud?”, tanyaku.
“Ya.. siapa lagi kalau bukan anak bu Shifa!”, jawab Ummi bersemangat.

Mendengar penjelasan Ummi aku hanya ber-oh saja.

“Kamu sendiri bagaimana sayang?”,tanya Ummi penuh harap.
‘Entahlah Mi, sepertinya saya belum siap sekarang ini, saya terlanjur kecewa dengan Ikhwan, pasalnya sahabat-sahabat saya di kampus sering dikecewakan tanpa alasan yang tepat .. “.

Kemudian mengalirlah cerita hal ihwal kebencianku terhadap Ikhwan-ikhwan. Lantas dengan bijak Ummi berkata di akhir ceritaku.

“Fida sayang, semua manusia menginginkan hal-hal yang baik. Begitu pula dengan Ikhwan-ikhwan tersebut, tetapi hal-hal yang dipandang baik itu relatif menurut individu yang memandangnya. Agama kita sudah mengatur bahwa setiap yang baik itu harus bersandar pada dienullah, Insya Allah itu yang membahagiakan kita. Tetapi yang jelas, Allah SWT akan pertemukan kita dengan orang-orang yang baik jika diri kita baik. Biarkan Ikhwan-ikhwan itu memilih dan memilih terus sehingga usianya dihabiskan hanya untuk menyeleksi kelebihan-kelebihan orang lain. Mereka lupa, mereka punya saudara perempuan, anak perempuan, bagaimana rasanya jika ahli keluarga mereka yang diperlakukan seperti itu. Fida, tidak semua Ikhwan berbuat demikian, buktinya menurut pengakuan anak bu Shifa dia tertarik dengan kamu karena busanamu dan akhlaqmu, bukan yang lain!, tetapi semua terserah Fida, Ummi tidak bisa memaksamu”, kata Ummi mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar.

“Jazaakillah ya Mi, atas nasihatnya, Fida jadi sadar dengan kekeliruan Fida selama ini. Insya Allah Mi, Fida shalat Istikharah dulu baru Fida jawab ya Mi ...”, kataku sambil merangkul Ummi dan mencium pipinya.

Satu titik bening jatuh tepat di pipiku demi mendengar pelaksanaan ‘Ijab Qabul. Ya, hari ini aku resmi menjadi menantu ibu Shifa, menjadi istri seorang Ikhwan yang bernama Adam.

“Ya, Allah berkahilah pernikahan kami”, do’aku dalam hati.

Disampingku dengan suka cita Ummi menciumku tak lupa pula mendo’akan, dan hadir pula sahabat-sahabatku terkasih. Lengkap sudah kebahagiaanku hari ini, meskipun aku tidak menyaksikan secara langsung ‘Ijab Qabul karena terpisah ruangan.

Ketika memasuki acara istirahat, sahabat-sahabatku mulai mengerumuniku sambil memeluk dan menciumku, mereka terlihat begitu bahagia. Alhamdulillah, akhirnya mereka menemukan yang terbaik hasil pilihan Allah SWT.

Tiba-tiba tercetus ide briliant-ku “bagaimana kalau kita berdo’a untuk Ikhwan-ikhwan yang masih sendiri karena sibuk memilih!”, seruku yang disambut “setuju!!” para sahabatku.

Kemudian kami tertawa tergelak-gelak, seolah-olah menertawai Ikhwan-ikhwan yang egois.

Ikhwan oh ..... ikhwan, selamatkan muslimah karena Allah!.

Baca Lagi? Mau Mau Mau? ......
| | edit post

Tegar ...

Posted On 7/09/2009 11:20:00 AM by achankoe | 0 comments

Oh Tuhan Yang Maha Kuasa, apalah kesalahan hamba hingga membuat Dea begitu benci padaku?” keluh Aisyah dalam doanya ketika shalat tahajud. Terbayang seketika dalam benak Aisyah bagaimana perlakuan Dea selama ini padanya.

Ais ingat kejadian kemarin, Ais terlambat sampai di sekolah karena banjir melanda jalan-jalan menuju sekolah apalagi Ais tinggal di daerah kumuh. Tiba di kelas, ternyata pelajaran sudah lima menit dimulai. Rupanya Ibu Sri yang terkenal disiplin dan “killer” maklum keadaan Ais, Ibu Sri hanya bergumam mengijinkan ketika Aisyah minta ijin masuk kelas.Ketika Aisyah melalui Dea, “Kasihan banget deh jadi orang miskin!” sindir Dea pada Ais sambil memanyunkan kedua bibirnya. Aisyah hanya diam dan beristighfar banyak-banyak dalam hati untuk menenangkan hatinya.

Begitu Aisyah mendaratkan tubuhnya ke bangku, Dita teman sebangkunya langsung menyodorkan tissue pada Aisyah untuk mengeringkan keringatnya yang kini mulai membasahi jilbab putihnya.

“Sabarlah Ais, biar Allah yang balas sikap buruk Dea selama ini terhadapmu”, hibur Dita yang diiringi anggukan kepala Aisyah.

“Oh Tuhan Yang Maha Segalanya, sabarkanlah hati hamba …..”, doa Aisyah dalam hati begitu memasuki gerbang SMU 1 Tarakan dimana sekarang ia menimba ilmu. Aisyah semakin hari semakin gerah berada di dalam kelas karena Dea. “Nah itu dia ….., apa lagi yang akan diucapkan Dea pagi ini?”, tanya Ais dalam hati.

“Pasti acara study tour minggu depan bakalan asyik!”, kata Dea pada teman-teman se-“genk”-nya.

“Kasihan ….. cuma kita-kita aja yang mampu bisa ikut ……” kata Dea lagi ketika Aisyah berlalu dihadapannya.

Aisyah tahu bahwa kata-kata Dea barusan adalah untuk menyindirnya karena cuma dia yang tidak ikut acara study tour ke kota gudeg minggu depan. Aisyah tahu diri bahwa dia hanya anak seorang buruh kasar jadi tidak mungkin memaksakan diri untuk ikut.

Aisyah duduk termenung di teras rumahnya sambil memandangi tumpukan sampah tak jauh darinya. Bagi Aisyah itu adalah pemandangan yang biasa jadi ia tidak merasa jijik sedikit pun. Asiyah mencoba mengulang kembali ingatan-ingatannya, awal dari kebencian Dea padanya.

Aisyah ingat ketika itu, saat pertama kali dihimpun satu kelas oleh pihak sekolah bersama Dea. Aisyah ingat Dea tak pernah bersikap bersahabat padanya meskipun hanya sekali. Awalnya Dea hanya bersikap acuh, tak pernah menegur Ais apalagi senyum pada Ais, namun setelah Cawu I berlalu Dea semakin kelihatan benci pada Aisyah. Ais tidak tahu pasti penyebab kebencian Dea padanya, tetapi menurut Dita yang pernah sekelas dengan Dea di kelas 1 dan 2, Dea membencinya karena merasa disaingi oleh Ais. Dea memang beruntung, orang tuanya kaya raya, otaknya cemerlang, tubuhnya langsing semampai dan cantik rupanya, tapi apalah yang dimiliki seorang Ais dibanding Dea.

Memang untuk urusan otak Ais lebih pintar dari Dea, sejak kelas 1 Ais selalu menempati juara umum baru Dea. Aisyah dengan jilbabnya berpenampilan sederhana, wajahnya yang manis dan kulitnya bersih siapapun akan tidak jemu memandanginya.

Seharusnya jalan apa yang terbaik menghadapi Dea tanya Ais pada dirinya sendiri. Lalu ….. Ais ingat pesan bapak semalam, meskipun orang berbuat jahat pada kita usahakan kita balas dengan kebaikan seperti contoh dari Nabi. Kemudian sebuah senyum manis mengulas di bibir Aisyah, aku harus berbuat baik pada Dea apapun yang terjadi tekad Ais dalam hati.

“Assalaamu’alaikum …..”, sapa Ais ketika berpapasan dengan Dea di pintu kelas. Dea agak terkejut disapa begitu, sambil menatap Ais Dea hanya melengos dan pergi begitu saja.

“Sudah bikin pe-er Dea?”,tanya Ais saat melewati bangku Dea.
“Apa urusan kamu!”, semprot Dea tanpa diduga.
“Cuma nanya ajak kok”, jawab Ais kalem dan berlalu pergi.
“Hei, buat apa kami negur Dea?”, tanya Dita pada Ais dengan kesal.
“Biarin aja Dit, kalau aku balas Dea dengan membencinya juga apa bedanya aku dengan Dea? Kan orang yang dijahati tapi membalasnya dengan kebaikan jauh lebih mulia dari orang yang jahat tersebut”, jelas Ais pada Dita yang hanya diam mememdam kekesalan. Dita nggak rela kalau sahabatnya dianggap remeh orang lain, tetapi Aisyah memang berjiwa besar, dia tidak pernah membalas perlakuan Dea meskipun hanya menunjukkan ketidaksukaannya pada Dea.

“Seandainya aku yang jadi Ais tentu sudah ku balas perlakuan Dea sejak dulu”, demikian Dita menggumam sendiri.

Hampir sebulan ini Ais bersikap baik padanya, apa ya … maksud Ais? Dea jadi penasaran. Dea terus berpikir …. Lalu muncul pikiran-pikiran yang sangat buruk.

Mungkin Ais ingin bersahabat dengannya kan Dea orang kaya dan masih banyak kemungkinan-kemingkinan lainnya. Kalau memang Ais bermaksud berteman dengannya Dea benar-benar nggak sudi karena setiap memandang wajah Ais maka hatinya akan terasa sangat keki, marah, kesal, dan benci. Papa menjanjikan Mercy kalau Cawu kemarin Dea juara umum dan mama menjanjikan keliling Eropa. Semua itu tinggal mimpi ….. ah …. bagaimana cara mengalahkan Aisyah?!!!.

Dea terus berpikir sampai akhirnya dia menemukan cara yang tepat. Awalnya Dea ragu dengan cara tersebut karena menurutnya terlalu jahat tapi hawa nafsunya telah dikuasi iblis dan Dea pun memutuskan untuk segera melaksanakan ide jahatnya untuk menyingkirkan Aisyah.

“De, sebenarnya apa salah Aisyah padamu sampai kamu begitu membencinya?”, tanya Hani teman segenk Dea ketika Dea menceritakan idenya semalam.
“Iya De, salah Ais apa?, kurasa ide kamu kelewatan deh ya …”, Melly meimpali sambil memandangi wajah-wajah temannya satu per satu seolah-olah minta persetujuan.

Tiba-tiba Dea memggebrak meja sambil berdiri berkacak pinggang …..
“Hei!! Kalau kalian takut ya udah, nggak usah pake’ nanya-nanya segala!”, ujar Dea marah yang tentu saja mengundang perhatian seisi kantin.
“Duduk dulu gih … De, tuh diliatin orang. Dengar dulu De ….., bukan kami nggak mau nolong kamu dan lagian siapa yang takut”, kata Hani menenangkan seraya memegang tangan Dea.
“Segitu aja udah emosi De, masak nanya dilarang sih? Kami cuma heran, kalo’ emang kamu sebel ama Ais nggak level De, dia ngga ada apa-apanya dengan kita ya nggak?”, Melly menambahkan yang disambut anggukan Heni tanda setuju.
“Pokoknya kalian nggak perlu tau deh, yang penting kalian bantu aku titik!”, Dea tetap tidak mau menceritakan hal sebenarnya pada Hani dan Melly.
“Ya udah kalo’ gitu, kapan rencana itu kita mulai?”, akhirnya Hani menyerah.
“Nah … gitu dong! Namanya sohib harus setia kawan. Kalo’ bisa kita mulai besok oke?”, kata Dea mulai bersemangat.
“Oke deh!”, jawab kedua sohibnya serempak.

Aisyah melangkah lunglai, kepalanya tertunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah dan matanya yang menahan air mata, sewaktu Aisyah keluar dari ruangan kepala sekolah. Ais bingung, malu, dan marah ketika ditanya kepala sekolah barusan tentang hubungannya dengan Imam. Ais hanya menunduk selama di ruang kepsek dan diam membisu. Ais bingung dengan kejadian ini, Ais tak pernah merasa menjalin hubungan dengan laki-laki manapun apalagi dengan Imam.

Ah, apakah seseorang telah memfitnahnya? tanya Ais dalam hati. Aisyah tahu dengan apa sanksinya jika melanggar peraturan yang baru diberlakukan enam bulan lalu untuk mengatasi masalah siswi yang hamil ketika akhir Cawu kelas 3. Aisyah malu pada teman-temannya yang seakan-akan ikut menuduhnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Tahu, oleh itu tunjukkanlah ya Allah ….. seraya mengusap pipinya yang basah Ais mengakhiri doanya ditengah malam yang dingin nan sepi.

“Sabar ya nduk, jangan putus asa dari rahmat Allah, percaya saja yang benar pasti menang, pokoknya ingat pesan Nabi kita jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Bapak dan ibumu percaya dan yakin kalau kamu bisa bersabar menghadapi masalah ini, sing tegar ya nduk …..”, ujar bapak bijak.

“Doakan Ais ya pak juga ibu. Doa orang tua tidak akan ditolak Allah …..”, kata Aisyah sambil tersenyum melihat anggukan kepala kedua orang tuanya.
Aisyah melihat Dea dan teman-temannya tertawa riang di pojok kelas, dasar tukang rumpi! rutuk Ais dalam hati.

“Percuma aja dong pake’ jilbab kalo’ cuma topeng!”, kata Dea sedikit dibuat keras agar terdengar sekelas.

Semua pasang mata memandangi Ais lekat-lekat tapi sungguh di luar dugaan Dea dan teman-temannya melihat sikap sabar dan tegar yang ditunjukkan oleh Aisyah. Asiyah bersikap santun dan tetap ramah seperti dulu dalam menghadapi tatapan sinis, pertanyaan-pertanyaan menyudutkan sampai cemoohan terhadap dirinya. Tak ada yang berubah dalam diri Ais.

“Aku percaya kok Ais, kamu nggak seperti yang diomongin orang-orang”, kata Dita seraya menggenggam tangan Aisyah.
“Makasih Dita, kamu masih percaya padaku, kamu memang sahabatku yang baik”, puji Aisyah tulus.
“Gimana sekarang, udah selesai masalahnya?”, tanya Dita kemudian.
“Kepsek memberi peringatan pertama’, jawab Aisyah datar.
“Siapa ya Ais yang begitu tega memfitnah kamu dengan Imam? Kamu aja nggak kenal dengan cowok yang namanya Imam” kata Dita tak mengerti.
“Entahlah Dit …..”, ujar Aisyah sambil mengangkat bahu.

Aisyah menimang-nimang surat dari kepala sekolah untuk orang tuanya, peringatan kedua. Ais sungguh tak mengerti siapa yang begitu tega menyebarkan fitnah bahwa dia masih menjalin hubungan dengan Imam, hubungan yang tak pernah ada.

Barusan Aisyah dan Imam disidang oleh Kepala sekolah tentang hubungan mereka, tentu saja mereka menyangkal berita tersebut, tetapi Kepala sekolah seakan-akan tidak mempercayainya karena bukti telah ada di tangannya. Akhirnya Aisyah dan Imam tak bisa berbuat apa-apa lagi selain diam mendengar ceramah Kepala sekolah.

Sewaktu keluar dari ruangan Kepala sekolah, Aisyah menawarkan musyawarah pada Imam untuk menyelesaikan masalah ini untuk menghindari hal-hal yang lebih buruk lagi terjadi. Akhirnya diputuskan, musyawarah tersebut dilakukan di rumah Aisyah ditemani oleh Dita dan kedua orang tua Aisyah.

“Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mencari tahu siapa dalang dibalik fitnah ini!”, kata Imam mengawali pertemuan sore itu.
“Iya, menurutku juga demikian”, sahut Aisyah.
“Orang yang tega berbuat jahat pada kita biasanya orang yang membenci kita. Coba kalian pikirkan apa ada orang yang benci pada kalian?”, tanya Bapak pada Aisyah dan Imam.
“Dea!”, seru Dita tiba-tiba seraya memandang Aisyah.
“Kalau saya tidak ada …”, kata Imam yakin.
“Bisa jadi Dea pak, soalnya cuma dia yang benci setengah mati pada Ais”, kata membenarkan dugaan Dita.

“Pernah dua minggu yang lalu Dea ke rumah saya untuk meminjam buku catatan kimia saya, padahal setahu saya Dea tak pernah meminjam buku siapa pun, dia mempunyai buku-buku pelajaran yang lengkap. Saya sempat heran juga dengan kedatangannya karena meskipun bersebelahan rumah dan satu sekolah tak pernah Dea menyapa saya walaupun hanya tersenyum”, jelas Imam panjang lebar.

Semua yang hadir diam sejenak ………………………
”Apakah Dea setega itu, meniru tulisan saya untuk menulis surat cinta pada Aisyah”, tanya Imam setengan ragu dengan analisanya.
“Kemungkinan besar Dea yang melakukannya”, ucap Aisyah datar.
“Nah, sekarang kita coba dulu menyelidikinya, tetapi jangan menuduh dulu dan jangan berburuk sangka pada Dea. Siapa tahu bukan dia”, usul Bapak bijak.

Sore itu, Imam dan Pak Giman tukang kebun keluarga Dea sedang mengobrol di halaman samping sambil membakar sampah. Ditengah keasyikan Imam dan Pak Giman datanglah Bi Sumi pembantu rumah keluarga Dea membawa sekeranjang sampah-sampah kertas untuk dibakar. Ketika Pak Giman hendak melemparkan kertas-kertas itu ke dalam api, Imam mencegahnya karena dia melihat ada sesuatu yang aneh pada kertas-kertas itu. Pak Giman memberikannya pada Imam, Imam tersentak kaget demi memandangi tulisan-tulisan di atas kertas itu yang tak lain dan tak bukan adalah tulisannya, tetapi Imam merasa tak pernah menulis di kertas-kertas cantik berwarna pink lembut yang kini ada di tangannya. Imam meminta kertas-kertas itu pada Pak Giman dan meminta Pak Giman agar tak menceritakannya pada Dea.

Di dalam kamar Imam sibuk meneliti kertas-kertas itu satu per satu.

“Apakah ini surat-surat yang dikirim Dea pada Kepala sekolah untuk memfitnah aku dan Aisyah”, tanya Imam pada dirinya sendiri sambil menatapi surat-surat yang tak selesai itu karena salah tulis. Ternyata buku yang dipinjam Dea adalah untuk meniru tulisannya tapi mengapa aku yang Dea pilih untuk dijadikan bahan fitnah dengan Aisyah. Imam benar-benar tak habis pikir, kasihan Aisyah kalau sampai dikeluarkan dari sekolah.

Mata Aisyah berkaca-kaca menatapi kertas-kertas pink lembut yang diberikan oleh Imam. Sebenarnya Ais berharap bukan Dea orang yang memfitnahnya, tetapi kenyataannya sungguh membuat Ais bersedih, “Apa salahku padamu Dea?”, ucap Aisyah lirih.
“Sudahlah Ais, mari kita temui Dea untuk memperjelas masalah ini sekaligus menyelesaikannya”, usul Imam kemudian. Namun sesampainya di rumah Dea dengan alasan yang tidak jelas Bi Sumi mengatakan bahwa Dea tidak mau menemui mereka. Akhirnya mereka pulang membawa seribu kedongkolan dan tanda tanya.

Perlahan-lahan Aisyah membuka pintu bernomor 24 setelah bertanya pada perawat jaga. Dilihatnya sebuah tubuh tergolek lemah terbaring di atas kasur berwarna biru langit. Didekatinya Dea yang kini sedang tertidur memejamkan mata cekungnya. Kasihan Dea, wajahnya yang cantik kini berubah pucat dan bibirnya membiru, tubuhnya pun sangat kurus, tangannya yang ceking dililit selang infus. Dea benar-benar menderita rupanya. Dea terjaga karena merasa ada yang memperhatikannya. Ditatapnya wajah Ais yang mengulas senyum, sesaat kemudian dipejamkannya kembali kedua matanya.

“Untuk apa kamu datang Ais?”, tanya dea datar.
“Apakah aku tidak boleh menjenguk kamu Dea? Kitakan teman sekelas Dea ….”, sahut Ais lembut.
“Ku kira kamu datang hanya ingin menertawai keadaanku …..”, ucap Dea lagi.
“Astaghfirullaah, jangan berpikir seburuk itu Dea. Niatku Insya Allah benar-benar tulus kok”, kata Aisyah terus meyakinkan.
Tiba-tiba suasana hening …………….
“Bagaimana keadaanmu Dea?”, tanya Aisyah memecah kesunyian.
“Pulanglah Ais, aku ingin sendiri ….”, kata Dea kemudian.
Aisyah berdiri perlahan dan menyelipkan sekuntum anggrek yang sejak tadi ada di tangannya, diantara bunga-bunga mawar merah yang terletak di dalam vas tak jauh dari Dea.
“Aku pulang dulu Dea, semoga cepat sembuh. Assalaamu’alaikum ….”, pamit Aisyah pada Dea yang masih terpejam.

Ini adalah untuk yang kelima kalinya Aisyah memijakkan kakinya di kamar rawat Dea. Meskipun Dea tak pernah menerima kedatangannya tetapi Aisyah tak pernah menyerah. Suatu saat nanti Dea pasti menerimanya, begitu pikir Aisyah.
“Apakah kamu nggak bosan datang Ais? Atau kamu nggak ngerti kalo’ diusir secara halus?!!”, tanya Dea kasar wajah Ais muncul dibalik pintu. Aisyah tertegun dengan sambutan Dea kali ini. Aisyah bingung terus masuk atau pulang, namun akhirnya Aisyah masuk mendekati Dea.

“Maafkan aku Dea bila mengganggumu ….”, kata Aisyah tertunduk.
“Aku sampai saat ini sungguh nggak mengerti mengapa kamu begitu membenciku, katakan Dea apa salahku padamu? Katakanlah sejujurnya Dea ….. mengapa? Sampai kamu tega memfitnahku dengan Imam?”, ucap Asiyah sambil sesegukan menatap wajah kaget Dea.
“Dari mana kamu tahu Ais?”, tanya Dea terkejut.
“Apakah dari Hani atau Melly?”, tanya Dea penasaran. Aisyah hanya menggeleng.
“Aku pulang Dea, …. Assalaamu’alaikum …” kata Aisyah sambil berlalu menjauh.
Ketika tangan Aisyah menyentuh handle pintu ……….
“Aisyah !”, panggil Dea tiba-tiba.
Aisyah berhenti kemudian menoleh pada Dea di sudut kamar.
“Maafkan aku Ais …..”, kata Dea pelan dan datar.

Aisyah tak dapat menyembunyikan keterkejutannya sekaligus tampak kegembiraan pada wajahnya apalagi setelah dilihat tangan Dea yang mengisyaratkannya untuk mendekat.
“Maafkan aku Ais, atas sikap burukku selama ini. Sebenarnya aku malu padamu, meskipun kamu kuperlakukan buruk tetapi kamu sekalipun tak pernah membalasnya ……”, kata Dea begitu Aisyah mendekat dan menyambut uluran tangannya.
“Sama-sama Dea …..”, kata Aisyah tenang.

Suasana puun berubah haru. Inilah pertama kalinya Aisyah melihat senyum Dea untuknya. Ternyata Dea tetap terlihat cantik walaupun wajahnya kuyu dan pucat.
Semakin hari Aisyah semakin sering mengunjungi Dea yang kini telah genap tiga bulan dirawat. Aisyah sendiri tidak tahu apa sebenarnya penyakit yang sedang menggerogoti tubuh Dea. Aisyah takut menyinggung perasaan Dea apabila menanyakan perihal penyakitnya itu. Yang sangat mengherankan Ais, selama dia menemani Dea di rumah sakit baru sekali dia bertemu dengan kedua orang tua Dea. Kasihan Dea, disaat dia berjuang melawan penyakitnya tetapi tidak ada dukungan dan perhatian dari kedua orang tuanya.

“Aisyah, makasih banyak atas kebaikanmu selama ini. Dari sekian banyak teman-temanku nggak ada satu pun yang memperhatikan aku kecuali menjengukku tak lebih dari satu kali”, kata Dea di suatu pagi yang sejuk. Ais hanya diam mendengarkan.
“Orang tuaku pun hanya beberapa kali menemaniku. Mereka lebih sayang pada bisnis mereka dari pada aku …..”, kata Dea lagi. Kali ini mata Dea nampak berkaca-kaca, Aisyah kasihan melihatnya.

“Sudahlah Dea, jangan bersedih kan ada Allah ….”, hibur Aisyah.
“Syukurlah ada kamu yang masih setia menemaniku”, puji Dea.
“Itu sudah kewajibanku sebagai seorang sahabat”, ucap Aisyah merendah.
“Ais ….. barusan dokter memberitahukan hasil perawatanku selama tiga bulan ini”, kata Dea tak bersemangat. Aisyah hanya diam memendangi Dea.
“Kanker telah menyebar keseluruh rahimku …..’, ucap Dea pelan. Aisyah terperanjat mendengar penuturan Dea barusan. Oh … kanker yang mengerikan,
“Dan dokter memperkirakan usiaku tak lebih dari 240 jam, karena setiap saat kanker terus bekerja merusak rahimku dan akhirnya akan ……”. Dea diam tak melanjutkan kalimatnya. Matanya menerawang, hampa, sedih, dan pasrah.
“Jangan putus asa Dea, usia manusia bukan di tangan dokter, obat-obatan, peralatan medis yang super canggih sekalipun tapi di tangan Allah Yang Maha Kuasa”, Aisyah menenangkan Dea.

Pagi ini terasa damai dalam hati Dea. Barulah dia merasakan kenyamanan paviliun yang selama tiga bulan lebih ini dihuninya. Suasana syahdu dengan alunan-alunan nasyid “munajatku” milik Nada Murni yang dihadiahkan Aisyah kemarin.
“Assalaamu’alaikum …..”, terdengar suara Aisyah di balik pintu yang setengah terbuka.
“Wa’alaikum salaam …”, jawab Dea senang. Ah, Ais tak ada orang sebaik kamu padaku. Mata Dea terus melekat pada Aisyah yang mengenakan setelan baju berbunga-bunga kecil di tambah jilbab hijau muda. Dea kagum pada Aisyah.
“Ini ada hadiah dari uang patungan teman-teman sekelas. Mudah-mudahan kamu senang dan nggak tersinggung”, kata Aisyah sambil menyerahkan bingkisan yang dibungkus rapi. Dea terlihat sangat bahagia saat menerima bungkusan dari tangan Aisyah tanpa banyak bicara Dea membukanya tak sabar.

Penglihatan Dea segera mengabur menatapi bungkusan dari teman-temannya. Sebuah jilbab putih apel penuh bordir cantik di tepi-tepi kainnya dan sebuah mushaf kecil berwarna coklat tua.
“Hadiah ini adalah ideku Dea …., kuharap kamu nggak marah”, ujar Aisyah lirih.
“Terima kasih ya Allah ….. Engkau kirimkan seorang sahabat yang sangat mencintaiku ….”, Dea berkata dalam hatinya sambil memandang ke atas seolah-olah dia melihat langsung Dzat Yang Maha Agung. Pandangannya beralih pada Aisyah kemudian menatap bunga-bunga yang tumbuh di pinggit jendela kamar.
“Ais, orang tuaku nggak pernah mengajari aku membaca Al Quran …….”, ujar Dea tersendat-sendat.
“Aku akan mengajarimu Dea”, tawar Aisyah.
“Terima kasih Ais ….”, ucap Dea senang.

Mulailah Dea belajar membaca Al Quran pada Aisyah sampai-sampai Dea lupa sepuluh hari yang telah diperkirakan dokter telah berlalu dua hari. Selama dua belas hari ini Dea sudah bisa membaca surat Al Baqarah beberapa ayat permulaan walaupun terbata-terbata dan belum terlalu fasih.

Dea sangat bersyukur karena akhirnya dia mampu membaca Al Quran. Apalagi sudah satu minggu ini jilbab dari Aisyah sudah dikenakannya. Rasanya Dea lebih siap menghadap-Nya meskipun amal ibadahnya jauh dari yang ditetapkan syariat.

Butiran-butiran bening berjatuhan di atas sajadah saat Dea sujud di tengah malam yang sunyi dan dingin. “Ya Allah, ijinkanlah hamba terus bersujud pada-Mu”,.
Aisyah memperpanjang langkahnya saat dilihatnya dari kejauhan dokter dan perawat sibuk keluar masuk dari kamar Dea. Ya Allah selamatkanlah Dea. Begitu tiba di depan pintu kamar Dea, beberapa orang perawat membawa tubuh Dea di atas kasur dorong. Selang-selang infus dipasang ditangannya padahal sudah dua minggu Dea bebas dari tusukan jarum infus. Wajahnya memucat, bibirnya memutih kelihatannya Dea sangat menderita.

Aisyah menghampiri seorang perawat yang mengurusi Dea.
“Semalam Dea pingsan di atas sajadah. Mulutnya mengeluarkan darah”, jelas perawat itu. Ah ….. kasihan Dea semoga dia baik-baik saja.

Dipandanginya wajah dan tubuh Dea dari balik ruang kaca ICU. Tak jauh dari Aisyah ada kedua orang tua Dea yang sibuk menerima panggilan rekan bisnisnya via HP.
“Keterlaluan!”, pikir Aisyah, nyawa Dea sedang terancam kanker pun mereka masih bisa tertawa dan berkata-kata manis dengan relasi mereka di HP.

“Wajar toh nak Ais, Bapak dan Ibu ndak perhatian sama Neng Dea, wong bibi sendiri pernah dengar kok Bapak bilang sama Neng Dea kalau Neng Dea bukan anak kandung Bapak sama Ibu. Kasihan sama Neng Dea …..”, jelas Bi Sumi suatu sore, ketika Aisyah berkunjung ke rumah Dea untuk menyampaikan pesan Dea untuk kedua orang tuanya.
“Tolong ya … nak Ais, jagain Dea, Bapak dan Ibu ada urusan penting dan malam ini kami sudah harus berada di Hongkong”, pinta Papa Dea pada Aisyah dan kemudian segera pergi. Aisyah memandangi punggung papa dan mama Dea yang kemudian menghilang di ujung gang ruang Melati.

Sudah banyak harta benda yang mereka timbun di bank-bank luar negeri. Apakah masih kurang harta sebanyak itu yang tidak akan habis dimakan tujuh turunan namun tak menjamin kebahagiaan dunia dan akherat.

Dea membuka matanya perlahan-lahan dan kahirnya Dea sadar dari komanya selama seminggu. Selama seminggu pula Aisyah menyempatkan waktunya di sela-sela kesibukannya menghadapi ujian akhir untuk menjenguk Dea di rumah sakit. Selama seminggu juga Aisyah shalat tahajjud dari tengah malam sampai mnjelang shubuh, memohon pada Yang Maha Kuasa untuk kesembuhan Dea.

Tanpa terasa mata Aisyah basah, menangis bahagia demi melihat tangan Dea bergerak diikuti matanya yang cekung terbuka. Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Kuasa.
“Dea ………” panggil Aisyah sambil menyentuh lengan Dea lembut. Dilihatnya senyum terukir di bibir Dea. Manis sekali serta terlihat wajah Dea begitu damai dan tenang.
“Dea, sebutlah asma Alah …..”, ujar Aisyah sambil menuntun Dea mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Sekali dua kali Dea hanya diam mendengarkan ucapan Aisyah, namun kemudian barulah Dea mengikutinya meski masih terputus-putus. Untuk terakhir kalinya Aisyah menuntun Dea dan diikuti suara Dea menyebut kalimat tauhid dengan jelas dan tenang. Sesaat kemudian sebuah senyum bahagia menghiasi wajah Dea.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiit ……. Terdengar dari monitor yang selama ini dijadikan penunjuk nadi Dea. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un.



Salam hormat untuk Bapak dan Ibu
Di Jakarta dan Tarakan
Salam kasih untuk suamiku tercinta

Baca Lagi? Mau Mau Mau? ......
| | edit post

Perempuan Yang Dicintai Suamiku

Posted On 7/06/2009 09:26:00 AM by achankoe | 0 comments

Nice story ... dari mailing list ......

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun
menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah
Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan
pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi,
kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit,
makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia
pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia
tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak
memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua,
bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di
meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan
obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok
garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main
dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat
pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan
kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku
tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di
kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus
dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat
dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia
memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah
melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya
bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia
berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan
kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun
perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu
mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah
dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya
teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan
kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di
advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan
untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis
pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan
dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum
baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering
termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau
aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih
dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya
dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha
masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,

" Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak
mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia
terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja
sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah
melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti
siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya,
tidak pernah sedetikpun !

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya
membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku.
Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku
melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau
memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada
sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami
kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu
komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha
begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan
membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku
nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang
lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati
bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang
bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah
menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun,
rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia
berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau
lihat surat papa buat tante Meisha ?"

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,

Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung
hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan
pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku
mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2
mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku
memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika
aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya.
Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa,
tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan
yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa
hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti
ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang
tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti
pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun
tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.

Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik
orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen
pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa,
asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan
segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan
seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya
aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku
hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my
heart.

yours,

Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun
baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat
mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku.
Dia mencintai perempuan lain.

Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir
setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku
letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku
mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu
aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa
heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan
bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku
dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran,
sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak
pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga
seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ?
Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan
tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam
dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya
nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia.
Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan
pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai
perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku
akan selalu mencintainya.

**********

Setahun kemudian…

Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah
pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.

" Mario, suamiku….

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali
bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu
terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku
ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu
posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu
asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin,
ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si
puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu
dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja
untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan
kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman
kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.

Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ?
Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu
menjadi istriku ?"

Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.

Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah
bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu.
Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.

Istrimu,

Rima"

Di surat yang lain,

"………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi
sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak
pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat
cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat
memandang Meisha……"

Disurat yang kesekian,

"…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.

Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2
padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika
emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau
sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka
bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang
kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih
hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak
kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur
disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena
penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan
tetap berusaha dan menantinya…….."

Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata
indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.

Disurat terakhir, pagi ini…

"…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9.
Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan
memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling
enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai
kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali,
dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran
dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya
tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,

Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan
hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar
kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi
dihatimu ?………"

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,

" Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat
keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya
kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari
mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2
kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya
diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat
dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya
terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak
lagi bergerak……" Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik
ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia
sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario
mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima
membacanya.

Dear Meisha,

Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi
marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang
dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan
memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki
dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha.
Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan
mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana.
Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk
disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya
telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang,
ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Nice story. Semoga Bermanfaat

Baca Lagi? Mau Mau Mau? ......
| | edit post

Susah Jadi Orang Jujur ?

Posted On 7/06/2009 08:49:00 AM by achankoe | 0 comments

Sekitar dua tahun yang lalu (tahun 2007) di tempatku kerja di buat koperasi, .. ya koperasi-koperasian lah karena tidak teregistrasi di Dinas Koperasi setempat. Tujuannya semula dalam rangka memfasilitasi para pegawai yang memerlukan pinjama uang.

Seiring waktu berjalan mulailah si koperasi mengembangkan sayap membuka counter minuman ringan, kerjasama dengan perusahaan minuman semisal teh sosro, fresh tea, dll. Teknis pembayarannya, kalau yang mau minum ya ambil minuman terus letakkan uang di toples yang telah disediakan. .... ingat ya... ini koperasi lebih dulu dimulai dibandingkan dengan koperasi jujurnya punya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi.
Nah setelah jalan beberapan bulan bahkan beberapa tahun, terbukti memang orang Indonesia itu sulit untuk menjadi orang jujur, bisa dipercaya, ... nggak tahu yah, .. apakah memang attitude-nya memang sudah membatu jadi susah untuk berubah atau memang tidak mau untuk berubah menjadi orang yang jujur dan bisa dipercaya ... amanah gitu lah ..

Tiap bulan itu koperasi selalu ada kerugian, ... antara barang yang terjual dengan uang pembayarannya selalu berbeda jauh seperti langit dengan bumi. Terakhir malah aku dapat informasi dari bendahara koperasi, rincian kerugiaannya kurang lebih sebagai berikut:
Ini yang bulan terakhir, bulan Juni 2009:

Nama barang yang di jual Teh Sosro Kotakan dan Freshtea botol
Barang Yang di jual 528 ktk dan 144 btl
Barang terjualyang dibayar 346 ktk dan 94 btl
Barang yang hilang/tak dibayar 182 ktk dan 50 btl


Coba saja dihitung, .. di tempat kerja kami ada sekita 60 orang pegawai ...
maka kalau dihitung secara sederhana adalah sebagai berikut:

Total barang hilang/tidak dibayar ..... : 182 + 50 = 232
Jumlah pegawai ........................ : 60 orang
Maka rata-rata tidak dibayar per orang : 232 : 60 = 3,87
Jadi rata-rata tidak dibayar per orang : 4

Ternyata memang untuk menjadi orang yang jujur bukan suatu pekerjaan yang mudah,
disamping harus ada kemauan secara pribadi, komitmen sungguh-sungguh, faktor religius sangat menentukan karena kita merasa diawasa oleh Yang Maha Melihat.

....... ini semua ternyata juga terjadi dalam organisasi yang tugasnya sebagai pionr pemberantasan korupsi yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ternyata ..... Susah Jadi Orang Jujur? ...

Baca Lagi? Mau Mau Mau? ......
| | edit post

Para pembaca saya yakin, kita semua hampir sudah familiar dengan kasus seorang konsumen yang mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit tertentu, dan kemudian dia dituntut pencemaran nama baik oleh pihak Rumah Sakit dan dimasukkan ke penjara.

kalau ada yang belum tahu silahkan browsing aja deh di google ....
ato ke sini aja :

Penipuan OMNI International Hospital Alam Sutera Tangerang

Kasus Prita Bisa Buat Orang Jadi Gaptek

ato yang laen deh, dah berseliweran di internet ...

Waduh ..... tidak terbayang rasanya ketika baca kasus konsumen Ibu Prita ini, .. kalau semua pelayanan publik baik swasta maupun pemerintah melaporkan kasus-kasus yang sama, .... habis sudah, ... kira-kira yang terjadi adalah:

- ribuan bahkan mungkin jutaan manusia di Indonesia tercinta ini yang masuk penjara
- ribuan situs yang menampung keluhan konsumen seperti www.mediakonsumen.com, kaskus, .... halah-halah pokoknya semua yang berbau keluhan konsumen ... DI BABAT HABIS!
- tidak ada gunanya LSM-LSM yang melindungi hak-hak konsumen ...
- mal praktek banyak meraja lela ...
- ..... nah yang paling penting dimana fungsinya UU Perlindungan Konsumen ???

waduh ...

Padahal kalau membaca surat keluhan Ibu Prita ini, .. rasa-rasanya banyak surat-surat sejenis yang beredar luas di internet, milis-milis, email, dan sebagainya. Kemudian, apakah mereka yang menulis itu akan dilaporkan dan dipenjarakan?

Coba saja simak suratnya:
Rabu, 03 September 2008 08:59 wib
Penipuan OMNI International Hospital Alam Sutera Tangerang

Penipuan OMNI International Hospital Alam Sutera Tangerang

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International, tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. Dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

Dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai hari Jumat tersebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Prita Mulyasari
Alam Sutera, Tangerang
081513100600 (fer)

.......... coba pembaca buka website-website yang menyuarakan keluhan konsumen, rasanya banyak deh yang sejenis atau mungkin lebih lagi ...

Pesan Untuk Ibu Prita dan Keluarga:

.... saya memang tidak kenal dengan Ibu Prita sekeluarga, ... tapi saya juga sering menulis keluhan-keluhan di webiste-website seperti www.mediakonsumen.com, dsb.
.... saya juga mempunyai anak-anak yang masih kecil, paling besar saat ini sekolah SD kelas 1, nomor dua baru mau naik dari playgroup ke TK, yang bungsu baru berumur dua tahun ..... saya sangat tidak mampu merasakan apa yang Ibu Prita rasakan saat ini, ... dan memang tidak akan mampu ...
..... tetapi saya cuma bisa berdoa semoga Ibu diberikan kesabaran, ... dan keyakinan yang teguh bahwa kebenaran itu akhirnya akan terungkap dan ...... MENANG!

Salam.

Baca Lagi? Mau Mau Mau? ......
| | edit post

Silakan coba Test ALZHEIMER gratis!

Posted On 5/22/2009 01:23:00 PM by achankoe | 0 comments

Maaf ya .... lagi agak suntuk nih, ... jadi cuma copy paste aja, ... dari mailing list sebelah ..

moga-moga aja ada manfaat, .... sekali lagi maaf ... maaf ... maaf ..

----- Original Message -----
From: "Dyah Palupi"
To: "sylvia soetanto" ; "felly"
; "Antonius Ndaru"

Sent: Friday, May 08, 2009 1:51 PM
Subject: Fw: Test ALZHEIMER (Boleh dicoba)


>
> -----
> >
> > >
> > > > *Silakan coba Test ALZHEIMER gratis!!!!**
> > > >
> > >
> > ------------------------------------------------------------------------
> > > >
> > > >
> > > > *1. Temukan huruf "C" di bawah. Jangan gunakan bantuan cursor.
> > > > *
> > > > OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
> > > > OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
> > > > OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
> > > > OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
> > > > OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
> > > > OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
> > > > OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO COOOOOOOOOOOOOO O
> > > > OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
> > > > OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
> > > > OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
> > > > OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > *2. Jika anda telah menemukan huruf "C", sekarang temukan angka "6"
di
> > > > bawah.
> > > > *
> > > > 9999999999999999999 9999999999999999 999999999999999 99999999999999
> > > > 9999999999999999999 9999999999999999 999999999999999
99999999999999999
> > > > 9999999999999999999 9999999999999999 999999999999999
99999999999999999
> > > > 9999699999999999999 9999999999999999 999999999999999
99999999999999999
> > > > 9999999999999999999 9999999999999999 999999999999999
99999999999999999
> > > > 9999999999999999999 9999999999999999 999999999999999 99999999999999
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > *3. Sekarang temukan huruf "N" di bawah. Ini agak lebih sulit.
> > > > *
> > > > MMMMMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMMMMMMMMMMMM MNMMMM
> > > > MMMMMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMM
> > > > MMMMMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMM
> > > > MMMMMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMM
> > > > MMMMMMMMMMMMMMMMMMM
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > *4. Sekarang temukan huruf "O" di bawah. Ini agak lebih sulit.
> > > > *QQQQQQQQQQQQQQQQQQQ QQQQQQQQQQQQQQQQ QQQ
> > > > QQQQQQQQQQQQQQQQQQQ QQQQQQQQQQQQQQQQ QQQ
> > > > QQQQQQQQQQQQQQQQQQ
> > > > QQQQQQQQQQQQQQQQQQQ QQQQQQQQQ
> > > > QQQQQQQQQQ
> > > > QQQQQQQQQQQQQQQQQOQ QQQQQQQQQQQQQQQQ
> > > > QQQQQQQQQQQQQQQQQQQ QQQQQQQQQQQQQQQQ QQ
> > > > QQQQQQQQQQQQQQQQQQQ QQQQQQQQQQQQQQQQ
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > *5. Sekarang temukan huruf "I" di bawah. Ini agak lebih sulit.
> > > > *LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLL
> > > > LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLL
> > > > LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLL
> > > > LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLL
> > > > LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLL
> > > > LLLLLLLLLLLLLL
> > > > LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLL
> > > > LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLI
> > > > LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLL
> > > > LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LL
> > > >
> > > >
> > > >
> > >
> > ------------------------------------------------------------------------
> > > >
> > > >
> > > > Ini bukan gurauan, fren
> > > > Jika anda bisa melewati 3 test ini, maka anda bisa batalkan rencana
> > > > kunjungan ke ahli neurologi
> > > > Otak anda masih baik dan jauh dari penyakit Alzheimer. Selamat !
> > > >
> > > > For your info
> > > > Alzheimer atau kepikunan merupakan sejenis penyakit penurunan fungsi
> > > > saraf otak yang kompleks dan progresif. Penyakit Alzheimer bukannya
> > > > penyakit menular. Penderita Alzheimer mengalami keadaan penurunan
daya
> > > > ingat yang parah sehingga penderita akhirnya tidak lagi mampu
mengurus
> > > > dirinya sendiri.
> > > >
> > > > Alzheimer tergolong sebagai salah satu jenis dementia yang ditandai
> > > > dengan melemahnya kemampuan bercakap, kemampuan berpikir sehat, daya
> > > > ingat, kemampuan mempertimbangan, adanya perubahan kepribadian dan
> > > > tingkah laku yang tidak terkendali. Keadaan ini amat membebani
> penderita
> > > > dan juga anggota keluarga yang perlu menjaga dan merawatnya.
> Menurunnya
> > > > fungsi ingatan juga memengaruhi fungsi intelektual dan sosial
> > > penderitanya.
> > > > Sumber penyakit ini belum diketahui dengan pasti, tetapi bukan
karena
> > > > proses penuaan. Sebagian ilmuwan memperkirakan bahwa kepikunan ini
> > > > berkaitan dengan pembentukan dan perubahan sel-sel saraf yang normal
> > > > menjadi semacam serat.
> > > >
> > > > Resiko untuk mengidap Alzheimer meningkat seiring dengan pertambahan
> > > > usia.. "Pada usia sekitar 65 tahun, seseorang berisiko lima persen
> untuk
> > > > menderita penyakit ini dan risiko ini meningkat dua kali lipat
setiap
> > > > lima tahun,"menurut Ahli Psikogeriatrik, Kantor Pengobatan
Psikologi,
> > > > Fakultas Pusat Pengobatan Universitas Malaya (PPUM), Dr. Esther
> > > > Ebeenezer. Meskipun kepikunan seringkali dikaitkan dengan usia
> lanjut,
> > > > namun terbukti bahwa penderita Alzheimer yang pertama diidentifikasi
> > > > adalah seorang perempuan berusia awal 50 tahunan.
> > > >
> > > > */Sejarah Alzheimer
> > > > /*
> > > > Penyakit ini ditemukan oleh Dr. Alois Alzheimer pada 1907 ini,
> dinamakan
> > > > Alzheimer sesuai nama penemunya.
> > > > Alzheimer menemukan bahwa syaraf otak penderita Alzheimer tidak
hanya
> > > > mengerut, bahkan dipenuhi gumpalan protein luar biasa yang disebut
> plak
> > > > amiloid dan serat yang berbelit-belit (neuro fibrillary).
> > > > Amiloid protein yang membentuk sel-sel plak protein tersebut,
> dipercaya
> > > > menyebabkan perubahan kimia otak. Musnahnya sel-sel saraf ini
> > > > menyebabkan syaraf otak yang berfungsi menyampaikan pesan dari satu
> > > > neuron ke neuron lain terpengaruh.
> > > >
> > > > Meskipun sudah ditemukan hampir satu abad yang lalu, Alzheimer tidak
> > > > seterkenal penyakit yang lain seperti hipertensi, Sindrom Pernafasan
> > > > Akut Parah (SARS) atau pun penyakit jantung. Mungkin karena gejala
> > > > penyakit Alzheimer tidak segera terlihat, berbeda dengan hipertensi
> yang
> > > > dapat dipantau melalui pemeriksaan tekanan darah. Penyakit
Alzheimer
> > > > tidak terdeteksi karena adanya anggapan bahwa sering lupa adalah hal
> > > > yang wajar dialami orang berusia lanjut karena faktor usia. Padahal
> > > > mungkin saja "sering lupa" tersebut merupakan tanda awal penyakit
> > > Alzheimer.
> > > >
> > > > Penyakit Alzheimer menjadi lebih dikenal secara meluas setelah
mantan
> > > > Presiden Amerika Serikat yang ke-40, Ronald Reagan mengemukakan
> keadaan
> > > > dirinya dalam suratnya yang tertanggal 5 November 1994. Penelitian
> > > > klinis terbaru menunjukkan bahwa konsumsi suplemen asam lemak
omega-3
> > > > dapat memperlambat laju penurunan fungsi kognitif penderita
alzheimer
> > > > ringan.
> > > >
> > > > */Gejala dan tingkat keparahan penyakit:
> > > >
> > > > /*Pada taraf ringan gejalanya dapat berupa: lupa dimana menyimpan
> kunci,
> > > > lupa mengambil uang kembalian, lupa mau membeli apa di toko, lupa
> nomor
> > > > telepon atau tidak ingat mana obat yang setiap hari biasa dimakan.
> > > >
> > > > Pada tingkat menengah: penderita misalnya, lupa mencampurkan gula
> dalam
> > > > minuman, garam dalam masakan atau lupa bagaimana cara mengaduk gula
di
> > > > dalam gelas.
> > > >
> > > > Pada tingkat yang parah, penderita sudah tidak mampu melakukan
> hal-hal
> > > > mendasar seperti mengurus diri sendiri, tidak lagi mengenali keadaan
> > > > sekitar rumahnya, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga
> > > > terdekat.
> > > >
> > > > Penderita Alzheimer dapat menjadi agresif, cepat marah dan
kehilangan
> > > > minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya.
Penderita
> > > > tingkat menengah atau parah dapat menunjukkan tingkah laku aneh,
> seperti
> > > > menjerit, terpekik atau mengikuti orang ke mana saja, bahkan walau
> orang
> > > > tersebut ke WC.
> > > >
> > > > Selain itu, penderita dapat juga mengalami semacam halusinasi
seperti
> > > > mendengar suara atau bisikan halus, atau
> > > > melihat bayangan menakutkan. Penderita juga kadangkala berjalan
mondar
> > > > mandir tanpa tujuan dan pola tidur mereka juga berubah. Penderita
> > > > biasanya akan lebih banyak tidur di siang hari dan terus terjaga
pada
> > > > malam hari.
> > > > Keadaan tersebut secara tidak langsung memberi tekanan mental kepada
> > > > perawat atau anggota keluarga yang harus waspada menjaga penderita
> > > > selama '36 jam' sehari.
> > > >
> > > > Kebanyakan penderita Alzheimer meninggal dunia akibat radang
paru-paru
> > > > atau pneumonia karena mereka tidak dapat melakukan berbagai
aktivitas
> > > > fisik lainnya.
> > > > Yang menyedihkan, adalah bahwa orang yang sakit itu sendiri tidak
> > > > memahami apa yang terjadi pada diri mereka dan memerlukan bantuan
> orang
> > > > lain. Berita buruknya penyakit Alzheimer ini, tidak dapat
disembuhkan.
> > > > Tetapi, gejalanya masih dapat dikendalikan dengan obat-obatan.
> > > > Obat-obatan yang diberi pada tingkat awal, dapat membantu ingatan
> > > > penderita seperti fungsi kognitif, aktivitas dan tingkah laku
sehari2.
> > > >
> > > > */Prevalensi
> > > > /*
> > > > Sekitar tahun 1950-an diperkirakan sekitar 2,5 juta warga dunia
> > > > menderita penyakit ini. Pada tahun 2003 Organisasi Kesehatan Dunia
> > > > (WHO), memperkirakan lebih dari satu milyar orang yang berusia di
atas
> > > > 60 tahun atau 10 persen penduduk dunia menderita Alzheimer.
> > > > Peningkatan jumlah penderita Alzheimer berkaitan dengan meningkatnya
> > > > jumlah warga dunia yang berusia lanjut, dan semakin panjangnya usia
> > > > atau masa hidup warga dunia. Usia hidup perempuan meningkat hingga
> > > > mencapai usia 80 tahun dan laki-laki mencapai usia 75 tahun. Selain
> > > > itu, faktor pemeliharaan kesehatan yang semakin baik dan menurunnya
> > > > tingkat kelahiran.
> > > >
> > > > * /Orang yang berisiko menderita Alzheimer:
> > > > /* Penderita hipertensi dengan usia di atas 40 tahun
> > > > * Penderita diabetes
> > > > * Kurang berolahraga
> > > > * Kadar kolesterol yang tinggi
> > > > * Faktor keturunan - memiliki keluarga yang menderita Alzheimer
> pada
> > > > usia 50-an*
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > * *
> > > >
> > > > * *
> > > >
> > > > * *

Baca Lagi? Mau Mau Mau? ......
| | edit post

Mau Perpanjang KTP di Batam? Awas .. Bisa Bikin Stress ….

Sambungan yang lalu ... Mau Perpanjang KTP di Batam? Awas .. Bisa Bikin Stress ….

Batam, 06 Mei 2009

Pertengahan bulan Maret 2009, saya ke Kantor Kecamatan Sekupang lagi, tuk mencek apakah KTP dan KK tersebut sudah selesai ..... ternyata … ternyata … begitu di cek di Kantor Camat, jangan kan selesai di cetak pun belum …. Waduuuuh … jadi selama tiga ini ngapaian aja ya? … akhirnya hari itu juga langsung di cetak ulang KTP nya … plus draft KK-nya … eh .. ternyata di KK masih pula salah tulis riwayat pendidikan saya. …
Jadi cetak ulang lagi ..

Nah dua minggu yang lalu tepatnya tanggal 21 April 2009 saya cek lagi ke Kantor Camat Sekupang, …. Ternyata KTP yang lalu baru di cetak ulang, tidak ditemukan diantara KTP-KTP yang sudah jadi, padahal dengan sangat yakin, petugas kecamatan bilang paling lama satu minggu sudah jadi, berarti klo di cetak tanggal 21 April 2009 maka tanggal 28 April 2009 harusnya sudah selesai, … tapi ketika saya datang tanggal 05 Mei 2009 (maklum tanggal 20 s.d. akhir bulan, di kantor sibuk banget, jadi gak bias keluar ijin) ..

Ternyata, lebih hebat lagi, tangagl 05 Mei 2009 pun KTP saya tidak ditemukan diantara KTP-KTP yang sudah selesai …. Waduh bisa tambah stress rasanya … disarankan untuk di cetak ulang … Cuma karena sedang mati lampu dan petugas dibagian pencetakan sudah pulang, … waktu itu jam 14.30 WIB .... terpaksa besok pagi saya disuruh datang lagi ke kantor camat Sekupang untuk cetak ulang .... mungkin mereka menganggap kita ini pengangguran kali ya ... tiap hari disuruh bolak-balik ke kantor camat sekupang tuk ngurusin KTP yang mestinya sudah lama jadi kalau saja SDM nya sadar dengan tanggung jawab.....

Nah, tadi pagi jam 07.30 WIB setelah absen kantor, saya ijin kepala seksi tuk pergi ke kantor camat sekupang, ... setelah ijin, sampai di kantor camat, mereka masih apel, .. sesudah apel eh mati lampu lagi .... saya pikir ... duh susah lagi ...

Oleh petugas kecamatan yang namanya Bapak Junaidi, dimintanya fotokopi formulir pendaftaran tuk nanti dicetak ulang lagi klao lampu sudah hidup, ... katanya sih klo hari ini dicetak ulang maka paling lama 2 hari KTP nya sudah siap ...

.... capek deh .......

Baca Lagi? Mau Mau Mau? ......
| | edit post

"Aku pernah datang dan Aku sangat patuh"

Posted On 4/22/2009 10:33:00 AM by achankoe | 0 comments

Email dari seorang  sahabat: ..

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang

memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu

polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup

di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia

tinggalkan adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut.

Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia

telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang

didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia.

Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan

kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi

kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua

kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang

mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal

di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen

Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak

menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak

kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar

olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek,

adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut

diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang

bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak

ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis,

20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya

sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang

yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal.

Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan

menghela nafas dan berkata, "saya makan apa, maka kamu juga

ikut apa yang saya makan". Kemudian papanya memberikan dia

nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang

membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu

membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut

dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh

menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat

penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun

tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar

biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar,

walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat

menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya,

Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai

dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan

pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong

rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia

berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki

sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa.

Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling

menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan

tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat

mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah.

Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan

menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan

papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu

yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya.

Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal

yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan

bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki

mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat

berbahagia.

Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan.

Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari

bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata

berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa

menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa

Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya

dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau

berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah.

Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke

rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit,

Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang.

Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk

menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan

air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya

merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk

menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai

sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi

darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan

untuk diperiksa.

Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena

Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang

memerlukan biaya sebesar 300.000$. Papanya mulai cemas melihat

anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya

memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya.

Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman

dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.

Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya

yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya

terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan

seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian

kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari

Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala

kata-kata belum sempat terlontar.

"Papa saya ingin mati".

Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan,

"Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati".

"Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa

saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini,

biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak

mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan

perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur

segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.

Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak

kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua

permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan

berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya:

"Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah

melihat foto ini".

Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke

kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih

baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang

berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah.

Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka

bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai

baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk

tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya

juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar.

Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja

di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti

selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit,

Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan

kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur

8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar

keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah

oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai

satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim

email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini".

Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat

bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese

didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi

pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi

dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi

dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah

tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan.

Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah

dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.

Ada seorang teman di-email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku

yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari

rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah.

Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan

anakku tercinta."

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan

pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke

ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah

ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup.

Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita

didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian

berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini

membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia,

Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan

mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi

Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah

mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum

tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya,

tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak,

bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari

lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang

seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan

untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun

mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan

malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya

mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan

tersenyum dan menjawab,

"Anak yang baik".

Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen

dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat

datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan

kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan

terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut.

Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat

dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan

sudah bisa terkontrol.Semua orang-orang pun menunggu kabar

baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi

sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak

leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah.

Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan

Fu Yuan:

"Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?

Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut.

Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang

yang baik hati".

Yu Yuan kemudia berkata :

"Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati".

Wartawan itupun menjawab,

"Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu

agar bisa berubah menjadi semakin baik".

Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku,

dan diberikan kepada ke Fu Yuan.

"Tante ini adalah surat wasiat saya."

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut

ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan

pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur

delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan

diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi

menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan,

dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan

masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan.

Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah

Yu Yuan meninggal. Tolong,..... .. Dan dia juga ingin

menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada

orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat

surat kabar.

"Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi.

Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini

bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada

pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya

pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit

seperti saya. Biar mereka lekas sembuh".

Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis

yang membasahi pipinya.

Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata

yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus,

karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan,

Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus

untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan,

Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat

pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan

perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan

memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan

Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut

menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya.

Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah

menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan

tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat

malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air.

Sungguh telah pergi kedunia lain.

Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan

menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan

turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk

setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan

"Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas

langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah.. ......... ...."

demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat

hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri

dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa

mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya.

Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan

pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari

berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang

tertawa. Diatas batu nisannya tertulis,

"Aku pernah datang dan aku sangat patuh"

(30 nov 1996 - 22 agus 2005).

Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup

Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup

telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis

kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut

disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya.

Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah :

Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian,

Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal

dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang

berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan

dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi.

Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak

tersebut.

"Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima

kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana.

Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya

dengan kata-kata "Aku pernah datang dan aku sangat patuh".

Kesimpulan:

Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita.

Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya

harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya.

Dengan kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang

tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang luar biasa dari

kalangan Dunia. Walaupun hidup serba kekuarangan, Dia bisa

memberikan kasihnya terhadap sesama. Inilah contoh yang

seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama, berbuat

sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit

kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan.

Pribadi dan hati seperti inilah yang dinamakan pribadi

seorang Pengasih.

Baca Lagi? Mau Mau Mau? ......
| | edit post